Jumat, 12 Februari 2016

NORMAL START SEQUENCE

-          Saat power-on (supply tegangan sudah tersedia dari trafo PS) satu dari fan ventilation turbine enclosure dalam kondisi beroperasi,

-          Pada saat saklar diposisikan ON, fan ventilation yang lainnya akan beroperasi guna meratakan waktu operasi dari tiap-tiap fan. Jika setelah 30 detik turbine enclosure ventilation tidak terdeteksi, alarm “Low Enclosure Differential Pressure” akan aktif. Pada kenyataannya fan ventilation beroperasi akan berhenti beroperasi, dan sebaliknya  fan ventilasi yang lainnya akan beroperasi.

-          Mengikuti verifikasi aliran udara, start-up permissive yang terdapat pada logic diagram kemudian yang akan diverifikasi,

-          Saat operator memilih mode operasional maka akan muncul message “READY TO START”, message yang muncul diaktifkan oleh system control Turbine.

-          Untuk memulai startup operator Unit harus mengeksekusi tombol START dari switch yang ada di Monitor HMI.

-          Setelah operator mengeksekusi tombol “START”, pompa lube oil generator (DC motor)  akan beroperasi dan lima menit kemudian tekanan pompa lube oil generator akan diverifikasi dengan tekanan besar dari 20 psig.

-          Dan check kedua akan dilakukan untuk mencapai CUSTOMER OK TO START dan valve bahan bakar diposisi minimum.

-          Selanjutnya akan tampil message A START SELECT pada HMI, low-speed, batasan T5.4 dan shutdown dalam kondisi inhibited, 4 dan 30 detik timer akan mulai menghitung.

-          Setelah 4 menit, timer pompa starter hydraulic akan beroperasi dan timer 10 detik akan mulai menghitung.

-          Setelah selesai timer 10 detik maka berbagai parameter starter hydraulic akan diverifikasi, dan jika starter check tidak terpenuhi pada starter system maka akan muncul alarm atau unit akan shutdown.

-          Setelah timer 30 detik selesai, yang mana start timer 4detik pada waktu yang sama, sebagai verifikasai pada generator lube oil pressure, dan jika pressure lube oil kurang dari 20 psig akan muncul alarm. Dan jika pressure generator lube oil kurang dari 12 psig, maka unit akan shutdown.

-          Jika selama 30 detik tidak terjadi shutdown maka starter akan bergerak pada High-Speed Crank mode.

-          Jika N1 Speed kurang dari 1700 rpm, 1 menit setelah start, Unit Shutdown dengan indikasi Engine Failed to Crank.

-          Jika N1 naik diatas 1700 rpm sebelum timer 1 menit selesai maka cranking akan berlanjut sampai ke interval purge.

-          Lama waktu purge tergantung pada system yang digunakan. Untuk boiler purge, 7,5 menit biasanya untuk engine purge dibutuhkan hanya 2 menit.

-          Dengan berjalannya waktu purge starter crank harus sudah mencapai speed 2300 rpm

-          Setelah timer purge selesai, system start-up ditentukan oleh operator mode apa yang akan dipilih, jika Low-Speed Crank starter SOV akan diposisi  pada low-speed setting, jika High-Speed Crank yang dipilih , starter SOV akan diposisi low-speed selama 1 menit setelah itu SOV akan ke High-Speed Crank setting.

-          Empat menit setelah tombol start-up dieksekusi ke High-Speed Crank mode, maka proses start-up akan stop, hal ini menandakan proses High-Speed Crank mode berakhir.

-          Setelah purge timer selesai, Run mode sudah dipilih, starter sudah berhenti. Saat N1 speed turun dibawah 1700 rpm, starter Hydraulic akan beroperasi kembali dan timer 10 detik akan mulai menghitung.

-          Pada saat timer selesai, N1 speed akan diverifikasi apakah sudah mencapai lebih dari 1700 rpm, jika tidak , Shutdown Unit dengan indikasi Engine Fail to Crank akan terjadi.

-          Jika N1 lebih besar dari 1700 rpm setelah timer 10 menit selesai, unit akan shutdown jika valve bahan bakar tidak diposisi minimum.

-          Jika valve bahan bakar pada posisi minimum, dan igniter menyala, valve shutoff  bahan bakar sisi tekanan rendah membuka, valve shutoff bahan bakar sisi tekanan tinggi membuka dan selama timer 20 menit akan menghitung.

-          Jika valve bahan bakar (FCV) tidak dalam posisi minimum,  unit shutdown terjadi dengan indikasi Fuel Valve Not at Minimum.

-          Saat timer 20 menit selesai, T5.4 akan terverifikasi, pada saat nilai pembacaan kurang dari 4000F maka unit akan shutdown dengan indikasi Failed to Ignite.

-          Dan jika lebih dari 4000F maka fire start counter dan engine run meter akan menyala, UV flame detector akan membaca pembakaran, system management bahan bakar akan bekerja sebagai control batasan dan 1 menit timer ramp N1 mulai bekerja.

-          Setelah 1 menit selesai, jika N1 speed kurang dari 5000 rpm, maka unit akan shutdown dengan indikasi Failed to Accelerate. Jika N1 naik lebih dari 4500 rpm dan governor bahan bakar bekerja atau Temperature Control, atau pada control T5.4, maka Run signal akan bekerja, igniter akan berhenti, motor starting hydraulic akan berhenti bekerja, generator space heater akan mati dan pompa DC generator lube oil akan stop.

-          Pada saat proses ini tekanan turbine lube oil turun dibawah 6 psig maka akan muncul alarm Turbine Lube Oil Pressure Low dan unit akan shutdown.

-          Pada saat speed N1 sudah mencapai 5000 rpm, tekanan turbine lube turun dibawah 12 psig maka unit akan shutdown. 

-          Setelah speed N1 mencapai 5000 rpm, monitor vibrasi enable, low-speed batasan T5.4 dan shutdown akan dikerjakan dalam governor bahan bakar, dan timer 5 menit warm-up akan bekerja.

-          Setelah 5 menit waktu warm-up, Speed N2 verifikasi harus besar dari 1800 rpm. Jika tidak, indikasi alarm N2 Failed to Accelerate akan muncul dan unit akan shutdown.

-          Setelah timer 5 menit selesai dan mode Run sudah dipilih, N1 speed reference menuju ke governor bahan bakar akan menuju batasan maksimumnya yang menyebabkan kecepatan N2 mencapai speed idle synchronous sebesar 2995 rpm atau mendekati 50 Hz frequency system.

-          Saat speed N2 mencapai nilai switch 1 sebesar 2500 rpm, governor bahan bakar mulai beroperasi pada saat diposisi  control reference N2.

-          Setelah 60 detik, jika N2 tidak mencapai 2500 rpm pada 50 Hz frequency system, Indikasi alarm N2 Failed to Accelerate akan muncul dan unit akan shutdown.

-          Jika mode Man Synchronization yang dipilih, maka operator akan mulai synchron dengan cara manual procedure, pada saat inilah proses syschron dimulai yaitu untuk menutup generator output circuit breaker (52G).

-          Jika seandainya, model Auto Synchron yang dipilih, putaran N2 akan terus accelerasi hingga mencapai Switch 2 yaitu hingga pada setpoint 2995 rpm.

-          Setelah N2 mencapai setpoint Switch 2 atau putarannya sekitar 2995 rpm (jika governor bahan bakar beroperasi pada control N2), dan setelah itu automatic circuit breaker akan bekerja dan timer 1 menit akan menghitung.

-          Dan jika dalam 1 menit generator output circuit breaker tidak menutup ( 52G tidak closed) maka pada HMI akan muncul alarm CIRCUIT BREAKER FAILED TO CLOSE.  


Senin, 01 Februari 2016


SHUTDOWN / CONTROL ACTION


1.     FSLO (ESN) - Fast Stop Lock-Out (Emergency Stop No motoring)
-       Shutdown yang terjadi secara tiba-tiba dengan cara menutup valve bahan bakar.
-       Saat N25 (HP shaft) putarannya turun hingga mencapai dibawah 300 RPM dan jika temperature T48 masih diatas 11500F (6210C)  bertahan selama 10 menit, maka lockout 4 jam berlaku.
-       Lockout 4 jam dapat dihindari jika kondisi FSLO (ESN) dapat direset dan turbine dapat diCranking dalam waktu 6 menit dari trip FSLO.
-       15 menit crank harus diselesaikan secara sempurna untuk mereset timer 6 menit waktu tunda.
-       Dan jika pada saat crank terjadi ganguan (gagal crank), berakibat N25 turun dibawah 300 RPM, dan temperature T48 masih tinggi, maka Lockout 4 jam akan berlaku.


2.     FSWM (ES)- Fast Stop With Motoring (Emergency Stop)
-       Shutdown yang terjadi secara tiba-tiba dengan cara menutup valve bahan bakar.
-       Saat putaran turbin turun mencapai 300 RPM, lakukan/inisial start crank selama 15 menit. Setelah selesai crank tunggu selama 5 menit kemudian lakukan crank kedua (selama 15 menit).


3.     SDTI (SI) - Step Decel To Idle (Step to Idle)
-       Secara tiba-tiba putaran turun mencapai putaran idle (kurang/lebih 6800 RPM) dan generator breaker open.
-       Jika kondisi SDTI (SI)  tidak dapat direset selama 10 detik maka FSWM (ES) akan belaku.


4.     SML (DM) - Slow to Minimum Load (Decelerate to Minimum load)
-       Beban yang turun secara tiba-tiba bertahan selama 20 detik (putaran turun rata-rata pada 9 RPM/detik).
-       Jika kondisi DM tidak dapat direset selama 5 menit, maka NSD akan berlaku.


5.      CDLO (NSD) - CoolDown LockOut (Normal ShutDown)
-       Mengakibatkan Beban dan water/steam akan stop secara normal dengan penurunan putaran 0.75 RPM/detik. Breaker 52G akan terbuka/lepas saat beban minimum tercapai.
-       Setelah breaker 52G terbuka/lepas, maka putaran akan turun (putaran turun mencapai 6800 RPM) dan pertahankan paling lama 5 menit untuk pendinginan (cool down) unit kemudian matikan/tutup bahan bakar, water/steam.
-       Saat N25 (HP Shaft) turun mencapai 300 RPM, lakukan start Crank selama 15 menit.
-       Dan jika kondisi NSD  dapat direset pada saat periode shutdown, status CDLO (NSD) menjadi batal.


PRINSIP DASAR GAS TURBINE TM2500



Senin, 19 Oktober 2015

GENERATOR LUBE OIL SYSTEM




GENERATOR LUBE OIL SYSTEM

System lube oil pada Generator adalah dengan cara memompa oli pelumas ke bearing-bearing Generator. Adapun komponen-komponen utama dari pelumasan itu adalah sebagai berikut;
  • Tanki penampungan lube oil (Resrevoir) dengan kapasitas 150 galon
  • Pompa lube oil yang digerakan oleh putaran generator
  • Motor DC, atau disebut Auxiliaru lube oil pump
  • Heat exchanger
  • Filter lube oil


Untuk mencegah dari kerusakan maka bearing  generator harus dilumasi pada saat generator shaft berputar. Oleh karena itu pelumasan bearing sudah mesti terjadi pada saat unit startup, pada saat operasi dan pada saat shaft rotor mengalami perlambatan pada waktu proses shutdown. Untuk menjamin proses pelumasan dalam semua kondisi tersebut diatas, pompa yang digerakan oleh motor DC auxiliary harus selalu dalam posisi standby. Pada kondisi terjadi kegagalan pompa utama generator atau saat turbine dalam proses shutdown maka pompa auxiliary akan beroperasi. Begitu juga pada proses startup pompa auxiliary akan beroperasi dan akan digantikan oleh pompa utama pada saat tekanan lube oil sudah mencapai tekanan normal operasi,


Generator-Driven Lube Oil Pump
Pompa ini terdapat di ujung exciter pada generator,  pompa ini diputar oleh rotor shaft generator berfungsi untuk men-supply lube oil ke bearing-bearing saat speed shaft sudah pada posisi putaran normal. Dikarenakan tekanan akan berkurang saat putaran rendah maka pompa auxiliary yang akan bekerja untuk membackup memenuhi kebutuhan tekanan lube oil selama proses startup dan shutdown.

Auxiliary Lube Oil Pump
Pompa auxiliary lube oil men-supply bearing-bearing generator pada 5 menit pertama startup, pada kondisi main pump mengalami kegagalan dan pada saat proses shutdown. Pompa auxililary ini diputar oleh motor DC dengan daya 2-hp, tegangan 125 VDC, dikontrol melalui sequence turbine di system turbine control panel.  Sequence ini memonitor lube oil system pressure dan dan shaft speed dari generator, mengaktifkan pompa auxiliary saat generator startup. Shutdown dan pada kondisi tekanan lube oil drop diposisi 12 psig. Alarm akan berbunyi jika pompa auxiliary beroperasi saat putaran generator pada putaran normal operasi.



GENERATOR LUBE OIL SYSTEM OPERATION

Rujukan gambar   F&ID Dwg. 20100-01-737248, Generator Lube Oil System.
Adapun system operasi dari generator system dapat dijelaskan sebagai berikut;
Pompa utama lube oil menghisap oli dari tanki (reservoir) menggunakan pipa tersendiri/terpisah dari pipa pompa auxiliary.
Check valve pada pompa utama dan pompa auxiliary berfungsi untuk menjaga aliran lube oil pada pipa pada saat pompa beroperasi.
Relief valve PSV-1027 berfungsi mencegah terjadinya kelebihan tekanan oli dari sisi keluaran pompa auxiliary jika melampui 85 psig.
Kedua pompa akan mengalirkan lube oil, bertemu pada sebuah pipa keluaran menuju heat exchanger.
Tekanan lube oil dijaga pada batasan 30 psig dengan menggunakan control valve PCV-1013. Control valve memonitor tekanan lube oil pada filter lube oil disisi sebelum heat exchanger.
Oli yang panas dari discharge akan didinginkan oleh fin-fan heat exchanger sebelum mengalir ke rangkaian filter lube oil. Lokasi heat exchanger lube oil berada di auxiliary trailer. Lube oil akan melewati cooler jika thermostat control valve TCV-1000 membaca temperature lube oil lebih besar dari 1400F. Saat temperature lube oil bertambah pada kondisi tubine beroperasi valve akan mengalirkan lube oil semangkin banyak menuju heat exchanger hingga pada 1400F hampir semua lube oil akan mengalir menuju heat exchanger
Setelah melalui control valve TCV-100 lube oil akan melewati temperature sensor TE-1025 yang akan memonitor temperature  actual lube oil, dan akan mengaktifkan signal alarm TAH-1025 saat temperature mencapai 1600F atau lebih dan akan menginisiasi Shutdown CDLO pada temperature 1900F keatas.
Lube oil yang sudah didinginkan melalui heat exchanger akan mengalir menuju filter lube oil. Transmitter Differential Pressure PDT-0015 berfungsi memonitor differential pressure pada filter yang akan mengirimkan signal 4-20 mA ke Turbine control panel akan mengaktifkan alarm differential pressure PDAH-0015 jika differential pressure mencapai 20 psid.

Differential Pressure PDT-0026 berfungsi memonitor pressure pipa supply  yang akan mengirimkan signal 4-20 mA ke Turbine control panel akan mengaktifkan alarm PAL-0026 jika pressure berada dibawa 25 psid. Dan menginisisasi shutdown FSLO PALL-0026 dan PAHH-0022 pada saat pressure berada dibawah 12 psig dan 60 psig atau lebih.

Pressure transmitter PT-0026 and monitors the supply line pressure and relays oil pressure data in
the form of 4–20-mA signals to the electronic control system for display on the CRT. The control
system activates alarm PAL-0026 at 25 psig decreasing, and initiates FSLO shutdowns PALL-
0026 and PAHH-0026 at 12 psig decreasing and 60 psig increasing respectively.
At the filter output, lube oil pressure is applied to pressure control valve PCV-1013 to limit oil
pressure to 30 psig. This valve protects against overpressure, which can force oil past the seals in
the generator-bearing assemblies, by porting excess oil back to the reservoir. At this point, lube oil
also enters the generator shaft bearing assemblies through the orifices at the exciter and drive ends
of the generator. RTD sensors TE-1021 TE-1022, TE-1023, and TE-1024 monitor the temperature
of the bearing assemblies and relay this data in the form of 4–20-mA signals to the electronic
control system, activating an alarm at 197 °F and initiating an FSLO shutdown at 203 °F.
Sensing elements TE-1035 and TE-1036 monitor the temperature of lube oil leaving the bearings
and transmit this data in the form of 4–20-mA signals to the electronic control system. These
sensors activate an alarm at 189 °F and initiate an FSLO shutdown at 194 °F. Oil from the bearing
assemblies is gravity-drained back to the generator lube oil reservoir. Flow indicators in each drain
line permit visual verification of oil flow.
Level gauge LG-1006 permits visual monitoring of the lube oil level in the reservoir, while tank
level transmitter LT-0001 initiates an alarm if oil level falls to 15 11/16" or rises to 21 11/16" (as
measured from bottom of the tank). Thermostatically controlled immersion heater HE-1005
maintains the reservoir oil temperature at 90 °F (±8 °F). Tank temperature element TE-1020
monitors reservoir oil temperature and transmit this data in the form of 4–20-mA signals to the
electronic control system. The controls system activates alarm TAL-1020 if the oil temperature
falls to 70 °F.


Jumat, 16 Oktober 2015




HYDRAULIC START SYSTEM


Fungsi dari Hydraulic start system adalah; untuk memutar turbine dan mampu menggerakan turbine sampai terjadinya pembakaran, digunakan pada proses water washing dan Untuk kegiatan pemeliharaan. Hydraulic start tedapat di auxiliary trailer yang terdiri dari reservoir, filter, heat exchanger, pompa charging, motor listrik, dan pompa pendingin. Pada turbine auxiliary gearbox terdapat sebuah valve yang bekerja secara listrik yang berfungsi sebagai pembuka aliran hydraulic yang bertekanan menuju ke variable displacement pump, dan motor strarter hydraulic yang terletak distarter drive pad. Motor starter hydraulic inilah yang bekerja memutar turbine. Terdapat dua macam putaran yaitu putaran rendah (low speed) digunakan untuk water washing dan kegiatan maintenance dan putaran tinggi (high speed) berfungsi sebagai starting turbin dan purging bahan bakar. Kecepatan turbine dapat dikontrol dari HMI untuk pembacaan secara local dapat ditemukan pada pompa charging hydraulic. System pressure utama dan level lube oil. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada single line diagram Hydraulic system. Berikut akan diterangkan bagian dari system hydraulic start.

System Control
Untuk start hydraulic dilakukan dari control system HMI, dan berikut parameter yang dapat dimonitor dilokal.
  • PI-1609 –parameter system pressure utama
  • PI-1612 –parameter pressure pompa charging

Reservoir (TANKI)
Tanki Hydraulic terbuat dari stainless steel dan dapat menampung 40-gallon, dilengkapi dengan kaca sight yang berfungsi sebagi penunjuk level LG-6020 (with integral thermometer); Temperature element TE-6003; oli Hydraulic-level transmitter LSLL-6001; control temperature immersion (celup) heater HE-1610/TC-1611 untuk menjaga temperature oli hydraulic pada 90 °F; dan a 200-mesh (filter) yang terintegrasi dengan valve bypass. TE-6003 akan mengirimkan signal 4-20 mA ke turbine control panel Pada temperature 700F Turbin Control Panel (TCP) akan mengaktifkan alarm low temperature TAL-6003, alarm high temperature 1800F dan high alarm Shutdown TAHH-6003 pada temperature 1900F.

LT-6001 mengirimkan signal 4-20 mA ke turbine control panel yang akan mengaktifkan alarm level low LAL-6001 pada saat volume oil hydraulic berkurang 74%, high alarm LAH-6001 pada saat volume oil hydraulic bertambah 95%, dan low Shutdown LALL-6001 saat volume berkurang di 40%. LT-6001 juga berfungsi sebagai system control untuk start permissive (74% volume). Saat turbine beroperasi, oli hydraulic akan mengalir dari reservoir (tanki) menuju stainer dan valve shutoff supply dan menuju ke pompa charging, pada pompa transmissi hydraulic dan pompa pendingin. Saat pompa hydraulic strainer terhambat dengan differential pressure 3 psid, maka oli hydraulic akan mengalir secara bypass untuk menghindari kerusakan pada filter.

POMPA CHARGING
Pompa charging berfungsi untuk menutupi kehilangan oli hydraulic pada pompa hydraulic dan di pompa utama, dapat disebut dengan rangkaian system hydraulic tertutup.
Kelebihan tekanan pada pompa supply hydraulic akan kembali ke dalam reservoir melalui sebuah relief valve, dengan setting 350 psig akan membuka. Dari pompa charging inilah aliran oli hydraulic mengalir ke rangkaian filter dan kembali ke pompa utama, dimana oli hydraulic akan dipompa menuju ke rangkaian motor stator. Filter yang berada di pompa charging dapat menangkap partikel yang masuk sebesar 10 µ. Indicator visual yang ada pada filter menjelaskan kondisi keseluruhan dari filter. Secara integral pada filter pompa charging dipasang bypass valve dan indicator jika aliran aliran oli hydraulic tersumbat. Filter pompa charging akan terhambat jika tekanan berada di differential pressure 50 µ psid. Oli hydraulic akan mengalir tanpa melewati filter, untuk menghindari terjadinya kerusakan pada filter. pompa charging termasuk  beberapa komponen dan setting pompa charging relief valve sebesar 2000 psig, high pressure relief valve disetting dan  5200 psig  dan pressure compensator disetting pada 1500 psig. Dan indicator manual yang ada dilokal yaitu Pi-6012 dengan skala 0 – 600 psig gambaran pompa charging discharge pressure.  

System Supply High-Pressure Closed-Loop (rangkaian tertutup)
Oli bertekanan tinggi dari Pompa utama hydraulic bersirkulasi dari auxiliary trailer ke main trailer kemudian menuju ke hydraulic start motor yang berada pada turbine. Jumlah aliran oli yang kembali dari motor akan diarahkan ke; 1. Kembali ke auxiliary trailer melalui pipa yang terhubung ke bagian system oli yang bertekanan rendah. 2. Menuju ke bagian system drain atau 3. Untuk melapisi drain yang tidak terdapat aliran saat kondisi normal. Sebelum mencapai pompa hydraulic utama oli akan melalui filter terlebih dahulu pada filter kembali yang bertekanan rendah.
Filter pada pressure tekanan rendah berfungsi menangkap partikel yang masuk lebih dari 10 µ dalam diameter. Terintegral dengan filter terdapat rangkaian baypass dan indicator yang menggambarkan dari kondisi filter. Saat filter sudah terhalang oleh partikel (pressure differential 25 psid) maka oli hydraulic akan melewati rangkaian baypass untuk menghindari kerusakan pada rangkaian filter.

Flushing dan System Pendinginan
Temperature dari aliran hydraulic dimonitor oleh thermostat TC-1611 yang berada pada reservoir (tanki). Jika temperature oli hydraulic turun dibawah 900F, heater HE-1610 akan memanaskan oli ke temperature 900 0F. Aliran kembali hydraulic menuju cooler melalui valve bypass pada Internal relief dengan tekanan 15 psid yang mengalirkan oli melebihi temperature 120 0F menuju heat exchanger untuk pendinginan sebelum kembali ke reservoir (tanki). Aliran oli tekanan rendah sebelum valve bypass ke pendingin terdapat sebuah filter yang akan menangkap partikel yang lebih besar dari 10 µ dalam diameter. Pada filter terintegral rangkaian bypass dan indicator yang menggambarkan kondisi dari filter. Saat filter sudah terhalang oleh partikel (pressure differential 25 psid) maka oli hydraulic akan melewati rangkaian baypass untuk menghindari kerusakan pada rangkaian filter.
Element temperature TE-6002 berfungsi memonitor temperature aliran oil drain temperature sebelum filter akan mengirimkan signal 4-20 ma ke turbin control panel yang akan mengaktifkan alarm TAH-6002 saat temperature bertambah 180 0f..





Kamis, 15 Oktober 2015

TURBINE LUBE OIL SYSTEM




SYSTEM OPERASI TURBINE LUBE OIL
  
  •             Turbin lube oil berada dalam tanki (reservoir) dengan kapasitas 150 galon, dihisap oleh pompa dari tanki reservoir melalui check valve menuju terminal inlet L1.
  •            Lube Oil yang keluar dari Discharger Terminal L2 menuju Filter Supply system.
  •             Differential Pressure pada pada pipa Filter supply dimonitor oleh PDT-1006,  yang akan mengirimkan signal 4-20 mA ke Turbine Control Panel (HMI).
  •             Pressure Indikator PI-1122 dengan skala 0-200 psig menunjukan nilai differential lube oil pressure Filter secara local.
  •            Saat Differential pressure terjadi di Filter mencapai 20 psid, maka system control akan mengaktifkan alarm PDAH-1006
  •             Dua buah valve disisi sebelum dan sesudah filter berfungsi untuk menutup aliran lube oil pada saat perawatan supply filter.
  •             Lube oil dari filter menuju ke Oil Header Terminal L4 masuk ke system internal turbine lube oil untuk didistribusikan ke accessory gearbox dan bearing-bearing shaft turbin.
  •            Sensor internal TE-1128 akan mengaktifkan alarm jika temperatur  masuk mencapai 200 0F
  •             Adapun sensor-sensor internal lainnya yaitu TE-1123, TE-1124, TE-1125, TE-1126 dan TE-1127 yang berfungsi untuk memonitor temperatur keluaran dari bearing-bearing turbine. Sensor akan mengaktifkan alarm jika lube oil temperature  ditiap-tiap keluaran mencapai 300 0F dan akan menginisiasi shutdown unit CDLO jika temperature lube oil mencapai 340 0F.
  •              Electromagnetic chip detector, MCD-18116, MCD-18117, MCD-18118, MCD-18119, MCD-18120 berfungsi sebagai monitor partikel-partikel logam (gram) yang mengalir terbawa oleh lube oil, dan akan menginisiasikan alarm jika kumpulan dari partikel logam nilai tahanannya lebih rendah dari tahanan resistor detector sebesar 100 ohms.
  •              Penunjukan local dan transmitter berfungsi sebagai monitor tekanan oil di terminal header L5.
  •            Terdapat internal Transmitter PT-1121 berfungsi untuk membaca tekanan lube oil yang terhubung ke Turbine control panel (HMI). Transmitter PT-1121 akan mengaktifkan alarm PAL-1121A jika tekanan lube oil drop pad 15 psig, alarm PAL-1121B jika tekanan lube oil drop ke 8 psig dan akan menginisiasikan shutdown FSLO PALL-1121 jika tekanan lube oil header mencapai 6 psig.
  •             Lube oil yang keluar dari bearing-bearing akan melalui terminal scavenge oil discharge L3 menuju filter scavenge.
  •             System pressure akan dimonitor secara control oleh PI-1122 disisi masuk dari filter scavenge. PT-1122 akan meneruskan signal tekanan lube oil ke control system (HMI) yang akan mengaktifkan alarm PAH-1122 jika tekanan oli di scavenge mencapai 110 psig.
  •             Pressure defferential transmitter PT-1007 berfungsi untuk memonitor differential tekanan yang melewati filter scavenge dan akan mengirimkan signal ke control panel (HMI) alarm PDAH-1007 akan aktif jika differential mencapai 20 psid dan shutdown PDAHH-1007 pada saat differential mencapai 25 psid.
  •             Relief valve PSV-1103, yang berada sebelum sisi masuk filter oli scavenge berfungsi untuk mencegah tekanan scavenge system melampaui 140 psig dengan cara mengembalikan kelebihan lube oil menuju ke reservoir (tanki). Dan seterusnya lube oil dari terminal L3 yang melalui rangkaian filter lube oil scavenge akan diarahkan ke fin-fan heat exchanger.
  •             Lube oil sudah didinginkan oleh heat exchanger akan kembali ke lube oil reservoir (tanki).
  •             lube oil yang masuk melewati pendingin diatur oleh valve 3 arah (3-way) yang dikontrol oleh thermostat TCV-1101. Lube oil akan menuju ke pendinginan jika nilai outlet temperature lube oil mencapai 1400F. Pada saat temperature lube oil masih rendah, seperti saat startup aliran lube oil akan langsung ke reservoir (tanki) tanpa melalui pendinginan.
  •              Lube oil scavenge setelah melewati Filter dan pendinginan akan kembali ke reservoir (tanki).
  •             Didalam reservoir (tanki) lube oil, udara dan air akan di venting ke atmosphere melalui demister/flame arrestor.
  •             Temperatur lube oil di Reservoir (tanki) dijaga pada temperature 900F oleh integral thermostat switch TC-1131 dan immersion (celup) heater HE-1104.
  •               Level gauge LG-1105 sebagai alat untuk melihat level lube oil secara local. Sementara Transmitter LT-1105 terhubung ke turbine control panel yang dapat dimonitor dari HMI.
  •            Elektronik Control System (HMI) akan mengaktifkan Alarm low LAL-1002 pada saat level lube oil drop ke 9,5” atau lebih redah dan akan menginisiasi shutdown unit saat level lube oil drop ke 8,5” (diukur dari permukaan bawah tanki).
  •         n  Control system juga akan mengaktifkan alarm High LAH-1002 saat level lube oil melebihi dari 18” diukur dari permukaan bawah tanki.
  •            Elemen temperature TE-1113 memonitor temperature lube oil yang ada ditanki, dikontrol melalui turbine control system dan akan mengaktifkan alarm TAL-1113 jika temperature lube oil dibawah 700F.